Panggung fashion sering dianggap identik dengan keglamoran duniawi semata. Padahal, di panggung itu pula kita bisa menangkap hawa kebatinan seperti apa yang sedang menguar di dunia. Ketika situasi sedang tidak baik-baik saja, fashion senantiasa meresponsnya dengan cara-ungkap tersendiri.
Perhelatan Senayan City Fashion Nation ke-19 dibuka dengan pergelaran busana karya Rinaldy Yunardi, Agus Lim, dan Tex Saverio. Melalui koleksi pertama yang tampil, yakni Rinaldy Yunardi, terpantul pesan tentang dunia yang tidak sedang baik-baik saja akhir-akhir ini. Karya fashion lazim menjadi medium yang khas bagi desainer untuk menghantarkan perspektif mereka dalam merespons dunia.
Ada yang sedikit berbeda dalam pembukaan pergelaran busana, Jumat (19/9/2025) lalu di Senayan City, Jakarta Selatan. Pembawa acara Caroline Zachrie mengawalinya dengan ajakan kepada seluruh tamu undangan untuk hening sejenak mendoakan yang terbaik untuk Tanah Air tercinta dan menghormati para siapa pun mereka yang telah berpulang dan berjasa untuk negeri. Keheningan itu diiringi lagu ”Padamu Negeri” dengan aransemen yang terdengar lebih dinamis dan optimistis, tidak mendayu-dayu.
Sekelopak bunga mawar merah yang merekah tampil berpendaran di layar besar yang terpasang di latar panggung. Cahaya sedikit diremangkan, memberi atmosfer yang terasa serius dan sedikit melankolik. Keheningan singkat sekitar dua menit itu terkemas ringkas tetapi cukup mengesankan. Acara fashion yang identik dengan keglamoran ini menjadi terasa lebih empatik dan membumi.
Latar panggung yang didesain bersih itu kemudian terkuak di bagian tengah seolah gerbang yang dibuka. Koleksi dari karya Rinaldy Yunardi muncul di sekuen pertama dengan daya kejut yang membetot perhatian pengunjung. Yungyung, panggilan akrab desainer kelahiran Medan ini, tampaknya memang senang membuat orang terpukau dengan karyanya. parfum lokal indonesia
Selama hampir 30 tahun berkarya, karya Yungyung kerap kali dikenakan belasan selebritas dunia. Beberapa di antaranya Madonna, Mariah Carey, Nicki Minaj, Ariana Grande, Janet Jackson, Shakira, Christina Aguilera, Gal Gadot, dan Beyonce.
Kali ini, ia tak hanya membikin orang terpana dengan rancangan aksesori yang menjadi ceruk keahliannya, tetapi juga dengan busana kreasinya. Yungyung selalu total. Padahal, koleksi busana itu sebenarnya sekadar menjadi medium untuk memamerkan koleksi aksesori rancangannya. Yungyung menyebutnya ”sekadar” sebagai kostum.
Sebanyak 21 busana serba hitam yang dihiasi beraneka perhiasan dan aksesoris kepala (headpiece) tampil solid dengan satu kesan kuat: intimidatif. Ada hawa kemarahan tertahan yang menguar tetapi terasa matang, dewasa, dan bijaksana. Bukan seperti kemarahan liar ala darah muda yang serba menggelegak dan membara.
”Ya kita (kalangan seniman) ini kan mau marah tapi enggak bisa, hanya bisa kita ungkapkan lewat karya. Meski ada situasi kegelapan tapi tetap ada kilau, ada cahaya hati yang membimbing, mengayomi,” kata Yungyung saat ditanya apakah memang koleksinya merespons kondisi dunia yang tengah diwarnai keresahan dan protes publik (civil unrest).
Semua busana hitam gelap itu hampir seluruhnya dibuat dengan satu macam bahan saja, yaitu tile atau tulle. ”Saya membuatnya dengan teknik moulage, jadi tidak bikin gambar desain di kertas lalu diwujudkan,” kata Yungyung.
Dengan teknik moulage, desainer berkreasi menciptakan pola busana langsung secara tiga dimensi pada manekin atau model manusia. Dengan teknik tersebut, perancang busana mengembangkan desainnya langsung pada bentuk tiga dimensi (patung manekin) tanpa perlu membuat pola kertas terlebih dahulu. Semua busana dibuat satu per satu oleh Yunyung dengan tangan.
Ya kita (kalangan seniman) ini kan mau marah tapi enggak bisa, hanya bisa kita ungkapkan lewat karya. Meski ada situasi kegelapan tapi tetap ada kilau, ada cahaya hati yang membimbing, mengayomi.
”Saya memahami dulu tekstur dan karakter dari bermacam tile. Ada yang lemas, sedang, dan kaku. Desain yang dibentuk mengikuti karakter tile tersebut. Jadi tangan-tangan saya ini yang berinteraksi dengan kain-kainnya secara spontan saat berkreasi di patung (manekin),” kata Yungyung
Busana serba hitam itu alhasil tampil dengan beragam bentuk yang menawan. Lipatan, lekukan, lengkungan, juga remasan mewarnai semua busana dalam koleksinya yang bertajuk ”Noctilume” yang berarti suatu keadaan berkilau dalam kegelapan. Hawa kemarahan dalam koleksinya ini mungkin bisa dikatakan sebagai angry with style. Ketika emosi negatif itu direspons dengan matang dan bijaksana, menghasilkan kilau harapan akan situasi yang lebih baik.
Kilau-kilau kebaikan dan harapan itu terepresentasi melalui koleksi aneka perhiasan dan aksesori yang tersemat dalam gelapnya busana. Yunyung memamerkan aneka bentuk indah, mulai dari bunga-bungaan dan pita, juga berbagai bentuk hewan serangga, seperti belalang dan kupu-kupu. Keindahan kupu-kupu seolah mewakili harapannya akan metamorfosa situasi kegelapan saat ini kelak menjadi pencerahan. Semua koleksi perhiasan dalam koleksi ”Noctilume” hadir dalam warna emas dan perak. parfum lokal
Yungyung bercerita, semua koleksi, baik busana maupun aksesori tersebut, ia siapkan dalam kurun sekitar empat bulan terakhir. Selain menyiapkan untuk koleksinya sendiri, ia juga merancang koleksi aksesoris untuk desainer Tex Saverio dan Agus Lim di pergelaran yang sama. Pergelaran tersebut merupakan yang pertama kalinya Tex dan Yungyung tampil satu panggung. Padahal, selama ini keduanya kerap saling mengagumi.
Pada koleksi yang tampil di ujung pergelaran, aksesori berupa korset tampil dengan beberapa butir kristal berwarna. Korset yang memeluk tubuh model ini tampak berkilau dominan ketimbang warna busana hitam yang menjadi dalaman. Koleksi itu seperti menerbitkan harapan Yungyung, situasi saat ini akan membaik dan berkilau penuh kembali.
