Kategori: parfum lokal

  • Pakaian untuk Zaman yang Terus Berubah

    Pakaian untuk Zaman yang Terus Berubah

    Jenama asal Jepang, Uniqlo, menghelat LifeWear Day 2025 di Museum of Modern Art (MoMA), New York City, Amerika Serikat pada Senin malam. Tema perhelatan itu, ”The Art and Science of LifeWear: The Next Generation of Innovation”. Ini tentang inovasi berkelanjutan pada produk-produk Uniqlo untuk merespons zaman yang terus berubah.

    Malam itu, lobi MoMA disulap dengan instalasi The Next Generation of Inovation yang memamerkan teknologi terbaru yang digunakan pada produk-produk Uniqlo. Khususnya adalah pakaian dalam berupa campuran kasmir HEATTECH Extra Warm yang menggabungkan serat sintetis dan serat alami, serta pakaian luar PUFFTECH yang dilengkapi insulasi ringan baru yang dapat berfungsi sebagai alternatif pakaian luar berbahan bulu angsa. parfum lokal

    Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari koleksi Musim Gugur/Dingin 2025 Uniqlo yang dikembangkan sebagai respons terhadap masukan pelanggan untuk HEATTECH yang menggunakan bahan-bahan alami. Selain fungsi aslinya, yaitu mengubah uap air yang dihasilkan tubuh manusia menjadi panas, produk ini juga memadukan 9 persen kasmir pintal berkualitas tinggi yang menawarkan keterlacakan bahan baku.

    Dibanding produk sebelumnya, inovasi ini membuat tingkat kehangatannya naik 1,5 kali. Sementara material kasmir yang digunakan, secara keseluruhan meningkatkan kemewahan pada tampilan produknya.

    Koleksi Musim Gugur/Dingin 2025 Uniqlo tersebut, terentang dari pakaian dalam dan pakaian luar berupa jaket aneka model, serta bawahan berupa celana, kulot lebar dan rok. Tampilannya stylist dengan warna-warna dasar bernuansa elegan seperti putih, merah, marun, beige, hitam, coklat, krem, dan biru.

    Di bawah besutan Direktur Kreatif Clare Waight Keller, tampilan pada koleksi Musim Gugur/Dingin 2025 Uniqlo tersebut secara keseluruhan terlihat modern dan elegan. Kehadiran Keller di Uniqlo sejak September 2024 tak dimungkiri telah membawa kesegaran baru pada produk-produk Uniqlo, meski juga tak dimungkiri membuat Uniqlo tak lagi ’semata’ bercita rasa Jepang, tetapi menjadi lebih global.

    Keller bergabung sebagai desainer Uniqlo pada 2023. Tahun 2000, Keller bekerja untuk Gucci dan bergabung dengan Chloe empat tahun kemudian pada 2011, sebelum melompat menjadi Direktur Kreatif House of Givenchy pada 2017. Tahun 2018, desainer asal Inggris ini menarik lebih banyak perhatian karena mendapat kepercayaan untuk mendesain gaun pernikahan Meghan Markle pada 2018.

    Nama besarnya di dunia mode membuat produk-produk Uniqlo besutannya menjadi buruan. Kiprahnya makin signifikan ketika Keller menjadi Direktur Kreatif. Menjadikan produk-produk Uniqlo tidak hanya utama dalam fungsi, tetapi juga stylist dari tampilan. Ditambah harga yang terjangkau, setidaknya bila dibandingkan dengan jenama-jenama kompetitor utamanya, perpaduan ini menjadi resep yang ampuh untuk memikat konsumen.

    Perubahan dramatis

    Dalam pidatonya di LifeWear Day 2025 di New York, Chairman, President dan CEO Fast Retailing yang memayungi Uniqlo, Tadashi Yanai, mengungkapkan, apa yang ditampilkan dalam LifeWear Day 2025 hanyalah langkah awal dari bentuk komitmen Uniqlo yang terus berinovasi pada produk-produk mereka. Demi mewujudkan komitmen tersebut, mereka berupaya untuk selalu merangkul perspektif konsumen serta sigap mengantisipasi perubahan gaya hidup saat ini.

    Yanai mengungkapkan, gaya hidup masyarakat saat ini tengah mengalami perubahan dramatis. Zaman di mana pakaian diproduksi dalam jumlah berlebihan lalu dibuang dalam skala besar, menurut dia, telah berakhir. Sebaliknya, saat ini, orang-orang cenderung membeli hanya apa yang benar-benar mereka butuhkan.

    ”Mereka memilih pakaian berkualitas tinggi dan memakainya dengan hati-hati agar tahan lama, pakaian yang diperoleh dan diproduksi dengan cara yang paling ramah sumber daya, aman dan setara, serta pakaian yang dapat didaur ulang dan digunakan kembali sebanyak mungkin,” tutur Yanai. Jenis pemikiran dan perilaku inilah yang, menurut dia, kini menjadi arus utama zaman ini.

    Sejalan dengan hal tersebut, Yanai menegaskan, Uniqlo bukanlah mode cepat sebagaimana yang dipersepsikan secara salah oleh orang-orang. Uniqlo, ujarnya, tidak membuat pakaian sekali pakai. ”Kami membuat pakaian yang melampaui zaman dan dapat dikenakan tahun demi tahun. Singkatnya, kami membuat pakaian yang tak lekang oleh waktu,” kata Yanai.

    Saya percaya, kita semua berhak mengenakan pakaian yang didesain dan diproduksi secara cermat dengan bahan berkualitas tinggi yang saya sebut demokratisasi pakaian.

    Ia menjelaskan, sejak meluncurkan Uniqlo, misi mereka dalah memperbaiki masyarakat melalui pakaian. Inti dari misi tersebut adalah prinsip made for all (dibuat untuk semua) yang melampaui batas kebangsaan, usia, pekerjaan, dan gender.

    ”Saya percaya, kita semua berhak mengenakan pakaian yang didesain dan diproduksi secara cermat dengan bahan berkualitas tinggi yang saya sebut demokratisasi pakaian. Untuk mewujudkannya, kami menawarkan pakaian berkualitas tinggi dengan harga terjangkau untuk konsumen di seluruh dunia. Kami ingin mengubah kehidupan sehari-hari orang-orang dan akhirnya mengubah dunia,” kata Yanai.

    Meski ditawarkan dengan harga terjangkau, LifeWear tidak berkompromi soal kualitas. LifeWear memiliki keindahan yang praktis, sederhana tetapi elegan dengan perhatian penuh pada detail terkecil. Sejak Uniqlo didirikan, mereka telah berupaya untuk menghadirkan jenis pakaian yang benar-benar baru, melampaui kerangka konvensional mode atau pakaian jadi.

    ”Sesungguhnya, tujuan kami adalah menciptakan industri baru yang terfokus tidak hanya pada pakaian sebagai sebuah produk, tetapi juga pada proses pembuatannya, cara penjualannya bahkan hingga daur ulang. Ini yang membedakan kami dari yang lain, yang menentukan tujuan dan makna utama kami,” papar Yanai.

    Dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini, Uniqlo terus berupaya menciptakan pakaian yang benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Semua terwujud berkat kemitraan Uniqlo dengan Toray Industries yang terjalin sejak 2006 dan telah menghasilkan banyak produk baru yang melampaui batas pakaian konvensional.

    Kemitraan mereka, misalnya, telah melahirkan pakaian HEATTECH yang tipis. tetapi hangat, hingga produk AIRsm yang sangat nyaman sehingga orang lupa bila sedang mengenakannya. Ada pula parka dengan perlindungan UV yang ringan serta bebas PFAS (sekelompok bahan kimia yang sulit terurai dan bisa menumpuk di lingkungan dan tubuh manusia). Inovasi paling baru, ditampilkan dalam LifeWear Day 2025 di MoMA. parfum lokal indonesia

    Meski Uniqlo dan Toray beroperasi di lini bisnis yang berbeda, keduanya memiliki basis pengetahuan yang sama, dan berkomitmen untuk menciptakan pakaian yang melampaui konvensi. Mereka bekerja sama di seluruh proses mulai pengembangan material, manufaktur dan distribusi, hingga pemasaran, peningkatan, dan penyempurnaan produk.

    ”Melampaui konvensi masa lalu, menciptakan pakaian yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan begitu, memungkinkan orang-orang untuk lebih menikmati hidup, membuat hidup lebih nyaman dan praktis. Itulah tujuan kami sebagai perusahaan. Kami akan terus berupaya mencapai tujuan tersebut,” kata Yanai.

    Presiden Toray Industries Mitsuo Ohya mengungkapkan, Toray melakukan lebih dari sekadar memasok material inovatif. Mereka bekerja dengan Uniqlo dalam pengembangan, produksi, logistik, bahkan pemasaran.

    ”Kami selalu percaya bahwa material dapat mengubah kehidupan. Kami tetap berkomitmen untuk mendorong batas-batas teknologi dan membuka potensi material untuk memberikan nilai baru. Pada saat yang sama, dengan menyadari tantangan perubahan iklim dan populasi yang menua serta mengidentifikasi apa yang benar-benar dicari konsumen, kami akan mengembangkan LifeWear dengan cara yang mengejutkan dan menyenangkan. Kami akan terus bekerja sama dengan Uniqlo untuk memanfaatkan teknologi dalam menciptakan LifeWear masa depan,” kata Ohya.

    Sejak didirikan pada 1926 untuk memproduksi rayon, Toray telah berkembang menjadi produsen berbagai jenis material yang mendukung kehidupan sehari-hari. Memulai dengan serat, mereka kemudian merambah ke bidang-bidang seperti pengolahan air, farmasi, dan perawatan kesehatan.

    Ohya menyebutkan, banyak hal telah dilakukan Toray untuk turut mengatasi tantangan global. Misalnya dengan mengembangkan dan memasok serat karbon yang 10 kali lebih kuat daripada baja, tetapi beratnya hanya seperempatnya. Pada sayap dan badan pesawat, serat karbon ini membantu mengurangi emisi karbon dioksida, membuat pesawat lebih ringan dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

    Toray juga memanfaatkan kekuatan material untuk membantu mengatasi kekurangan air global. Saat ini, 2,2 miliar orang atau seperempat populasi dunia tidak dapat mengakses air bersih. ”Teknologi membran pengolahan air kami membantu memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya. Toray juga memungkinkan daur ulang air limbah untuk keperluan industri.

    Komitmen pada seni

    Komitmen Uniqlo pada inovasi sains tak diragukan, demikian pula komitmen Uniqlo pada seni sebagaimana filosofi LifeWear yang mereka usung. Dalam kaitan kerja sama antara Uniqlo dan MoMA, di LifeWear Day 2025 dipamerkan pula lini kaus grafis UT yang memadukan seni dan budaya dalam pakaian sehari-hari.

    Di antaranya adalah kaus bergambar karya pelukis Vincent van Gogh ”Starry Night” dan karya pelukis Claude Monet ”Agapanthus” dan ”Water Lily”. Filosofi LifeWear berfokus pada pakaian sehari-hari yang sederhana, tetapi berkualitas tinggi dan fungsional dengan sentuhan keindahan yang praktis untuk membuat hidup setiap orang menjadi lebih baik.

    Dalam kesempatan yang sama, Uniqlo juga memperkenalkan seniman KAWS yang bernama asli Brian Donnelly sebagai Artist in Residence Uniqlo yang pertama. KAWS telah berkolaborasi dengan Uniqlo sejak 2016. Selama melakoni perannya sebagai Artist in Residence tersebut, KAWS akan membantu Uniqlo dalam meningkatkan apresiasi serta partisipasi seni dan kreativitas secara global.

    Kami selalu percaya bahwa material dapat mengubah kehidupan. Kami tetap berkomitmen untuk mendorong batas-batas teknologi dan membuka potensi material untuk memberikan nilai baru.

    Penunjukkan Artist in Residence ini dapat dibaca sebagai bentuk keseriusan dan pelibatan Uniqlo pada dunia seni. Dalam wawancara khusus dengan sejumlah media di New York pada Selasa (16/9/2025), Yanai menegaskan bahwa sentuhan seni sudah sepatutnya menjadi bagian penting dalam penciptaan produk-produk busana atau pakaian. Itulah mengapa seni menjadi salah satu komponen penting bagi Uniqlo, yang termanifestasi dalam produk-produk mereka.

    Di sisi lain, penunjukan aktor Cate Blanchett yang, antara lain, dikenal melalui perannya di trilogi The Lord of the Rings dan Ocean’s 8, sebagai Global Brand Ambassador Uniqlo 2025 juga menjadi bentuk keseriusan Uniqlo dalam menampilkan citranya di mata publik. Blanchett yang telah berkarier di dunia film Hollywood lebih dari 30 tahun memiliki reputasi yang baik dan terhormat.

    Kehadirannya sebagai bagian dari ”keluarga Uniqlo” melengkapi posisi mantan petenis dunia Roger Federer yang telah 7 tahun mengemban tugas sebagai Global Brand Ambassador Uniqlo. Keduanya sama-sama memiliki prestasi gemilang di dunia yang mereka geluti serta citra yang cemerlang.

    Tampaknya seiring perubahan zaman, di mana perubahan iklim dan populasi yang menua menjadi tantangan, Uniqlo berupaya untuk terus meneguhkan peran dan citra mereka. Tak hanya semata cemerlang dari sisi posisi dan citra yang mendatangkan pundi-pundi materi, tetapi juga berkontribusi pada perubahan dunia melalui inovasi teknologi tanpa henti. Namun, perlu tetap diingat bahwa kendali konsumsi, mutlak ada di tangan konsumen.

    Parfum AXL

  • Lintas Energi Maskulin Feminin

    Lintas Energi Maskulin Feminin

    Maskulin dan feminin dalam fashion bukanlah unsur yang harus dibelenggu dalam kotak-kotak jender. Keduanya menjadi energi yang boleh dan sah saja untuk dieksplorasi lintas-jender. Pesan itu yang bisa ditarik dari peragaan busana koleksi Tex Saverio dan Agus Lim dalam perhelatan Senayan City Fashion Nation ke-19.

    Apa yang terbayang di kepala kita tentang setelan jas pria? Lazimnya alam pikir kita menggambarkan sosok laki-laki gagah dan maskulin berbalut jas yang rapih dan berkelas. Kata gentleman menjadi diksi yang mudah terucap melalui bayangan itu. Padahal, ada kata gentle dalam gentleman yang berarti ’lembut’, kata sifat yang lebih dekat dengan kualitas feminin daripada maskulin.

    Kualitas ”lembut” yang lebih dekat dengan energi feminin itu yang mewarnai koleksi setelan jas Agus Lim. Bertajuk ”Gentle Disruption”, koleksi jas Agus Lim menampilkan sisi lembut dari setelan jas yang biasanya hanya dieksplorasi sisi maskulinitasnya. Agus yang dikenal sebagai perancang setelan jas untuk wedding ini memamerkan pula keahliannya dalam keterampilan penjahitan (tailoring) yang presisi.

    ”Dalam bayangan saya, gentleman itu enggak harus yang kaku. Oleh karena itu, aku namakan Gentle Disruption, sedikit lari-larilah. Agak selengean, tapi tetap bisa masuk untuk formal,” kata Agus.

    Agus memamerkan 18 tampilan setelan jas yang secara keseluruhan sebenarnya memang bisa dikenakan lintas jender. Laki-laki bisa mengenakannya tanpa terkesan ”tercederai” maskulinitasnya. Potongan yang bersih dan rapih menjadi unsur utama yang memperkuat kesan elegan. parfum lokal

    Agus juga memainkan palet warna bernuansa pastel yang lebih lazim muncul pada koleksi untuk busana perempuan. Tentu saja ini di luar pakem warna-warna setelan jas yang umumnya gelap, abu-abu, atau khaki. Busana yang muncul pertama, misalnya, menampilkan warna mustard yang lembut dengan dalaman kemeja berkerah tinggi warna keabu-abuan.

    Selain palet warna tak biasa, Agus juga memainkan siluet jas, seperti potongan pendek sebatas pinggang pada setelan berwarna hijau pastel dan cokelat. Ada pula setelan jas berwarna beige lembut berbelahan samping dengan aksen tali untuk disimpulkan.

    ”Saya eksplorasi sedikit di tailoring yang presisi, saya buat agak bebas tanpa menghilangkan (tampilan) kerapihannya,” kata Agus.

    Berpuluh tahun mendesain setelan jas, terutama untuk pernikahan, Agus mengutamakan pada detail kerapihan dalam penjahitan, kualitas bahan, dan warna. Untuk koleksi Great Disruption ia menggunakan bahan katun, wol, dan wol campuran. Menurutnya, dengan kualitas bahan kain yang bagus, ia tak perlu lagi menambah-nambahkan ornamen ramai pada busana.

    Dalam salah satu setelan jas berwarna kuning, Agus terlihat lebih ”liar” bermain dengan membuat imaji garis-garis pada bagian perut, lengan, dan celana. Garis-garis kuning itu rupanya bukanlah motif pada material kain melainkan jahitan benang kuning. Potongan jas juga dibuat pendek, sedikit di bawah pinggang.

    Seluruh busananya dilengkapi dengan sematan aksesori bros keemasan karya Rinaldy Yunardi. Aksesori berbentuk bunga itu memberi sentuhan feminin, yang sama sekali tidak menggoyahkan kemaskulinan dari setelan jas. Koleksi ”Gentle Disruption” ini mencerminkan racikan maskulinitas dan feminitas yang harmonis bisa sedap dipandang, jauh dari kesan ganjil.

    Eksplorasi teknik

    Racikan energi feminin dan maskulin juga dieksplorasi oleh desainer Tex Saverio dengan pendekatan berbeda. Di pergelaran yang sama, Tex menampilkan koleksi bertajuk ”Domina” yang dalam bahasa latin berarti ’perempuan yang memimpin’. Tex mengatakan, koleksinya tersebut terinspirasi dari kekuatan perempuan, khususnya ibunya.

    ”Menurutku, perempuan itu makhluk terkuat di Bumi ini. Ada dualitas dari kompleksitas perempuan, yakni sisi kuat sekaligus sisi rapuh. She can be a phoenix, she can be a dragon,” kata Tex.

    Baik burung phoenix maupun naga merupakan makhluk mitologi yang sarat makna. Burung phoenix melambangkan kebangkitan, harapan, keabadian, pembaruan, transformasi, dan siklus kehidupan. Sementara naga dalam mitologi Tiongkok melambangkan kekuatan, perlindungan, dan keberuntungan. Jika phoenix merepresentasikan energi yin (feminin), maka naga merepresentasikan energi yang (maskulin).

    Untuk mewujudkan koleksi ”Domina” ini, Tex menggabungkan cara kuno tradisional sekaligus teknologi modern. Cara tradisional ia terapkan pada proses menyulam material dekoratif pada bahan tile dengan teknik nakshi kantha. ”Nakshi, teknik yang sudah jarang banget dipakai,” kata Tex.

    Nakshi kantha merupakan seni sulam tradisional dari wilayah Bengal, yaitu Bangladesh dan Benggala Barat di India. Nakshi yang telah dilakukan selama beberapa abad di kawasan tersebut terkenal dengan pola artistiknya yang rumit. Dengan teknik tersebut, Tex mengaplikasikan berbagai material dekoratif, seperti beads satu per satu pada bahan kain.

    Kemudian, dengan pendekatan teknologi, Tex menggunakan teknik pencetakan 3D (tiga dimensi) pada material resin dan PLA atau polylactic acid. Material ini merupakan polyester biodegradable yang terbuat dari sumber daya biomassa terbarukan, seperti pati jagung, singkong, atau tebu. parfum lokal indonesia

    PLA cukup populer sebagai filamen dalam pencetakan 3D karena mudah dicetak karena titik lelehnya rendah, aman bersentuhan dengan tubuh manusia, biayanya terjangkau, dan ramah lingkungan. Meski demikian, PLA bersifat higroskopis (menyerap kelembapan) dan lebih rapuh ketimbang termoplastik lainnya sehingga perlu disimpan dengan baik.

    ”Jadi, dalam koleksi ini (teknik utama) bukan menjahit (busana). Mungkin nanti ke depannya kita di era untuk bikin baju itu kita print, mencetak. Ini tanpa mold, kita bikin 3D file dengan software khusus,” kata Tex.

    Citra phoenix dan naga dalam tiga dimensi tadi diwujudkan dengan teknologi cetak 3D pada filamen PLA ini. Secara visual, pada filamen tersebut seolah terukir bentuk naga dan burung phoenix. Filamen itu kemudian disambungkan pada bahan tile yang telah disulam dengan teknik nakshi. Setiap filamen PLA telah disiapkan lubang-lubang untuk penyambungan. Proses ini semua tentunya membutuhkan keterampilan tangan yang sangat tinggi dan penuh kehati-hatian. Sebab, kedua material berbeda kontras karakternya, filamen PLA cenderung kaku dibandingkan bahan tile yang lebih rapuh.

    Tex mengatakan, dirinya akan terus mengembangkan eksplorasi fashion dengan memanfaatkan teknologi modern. Mesin cetak 3D, misalnya, Tex telah memilikinya sendiri sehingga tidak perlu lagi bekerja sama dengan vendor tertentu seperti ketika ia mengeluarkan koleksi Exoskeleton (2013). Tex kini menggunakan dua macam mesin pencetakan 3D, yakni untuk bahan resin dan bahan PLA. Eksplorasi teknologi dalam koleksi Domina ini juga memberi kesan modern dan futuristik, tetapi tidak dingin.

    Tex meyakini, fashion berbasis teknologi akan terus berkembang dan membuka berbagai kemungkinan dalam berkreasi. Eksplorasi teknologi sudah menjadi semacam ruh dari karya-karyanya. ”Dan perkembangannya nanti bahan-bahan baru (selain PLA) yang juga bisa diterapkan dengan ini (cetak 3D), seolah bajunya ada ukirannya,” imbuh Tex.

    Dalam koleksi Domina, busana berbahan PLA dengan cetakan tiga dimensi diwujudkan menjadi siluet body suit hingga korset yang memeluk tubuh dengan kokoh. Alhasil, tampilan keseluruhan memberi kesan keanggunan yang gagah. Kegagahan yang biasanya menyimpan energi maskulin diramu dengan kelembutan yang feminin.

    Dari koleksi Tex Saverio ataupun Agus Lim, feminitas yang diidentikkan rapuh bisa sekaligus menjadi kekuatan yang mampu mendobrak apa pun yang seolah tak mungkin. Energi feminin dan maskulin sengaja dibuat saling berinteraksi dan bersenyawa sehingga mewujudkan keindahan yang lebih dialogis.

    Parfum AXL

  • Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

    Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

    Auguste Soesastro seperti melakukan ”fermentasi” selama bertahun-tahun untuk merespons ”rasa” dari Bali versi terkini. Penggunaan bahan klasik yang dipadukan dengan rancangan bersiluet modern seolah mencerminkan dualitas budaya yang berdampingan di Bali. Begitu dinamis dan universal seiring waktu.

    Penafsiran yang matang tentang Bali itu tak lahir dalam sekejap. Sebelumnya, Auguste pernah memperkenalkan koleksi yang terinspirasi dari tarian Bali di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2010. Sejak saat itu, dia terus mengamati, meriset, dan mengeksplorasi banyak hal. parfum kualitas terbaik

    Benar saja, semakin lama diperam, koleksi 27 tampilan busana karya Auguste bertajuk ”Archipelago Cruise” yang tampil dalam Plaza Indonesia Fashion Week, Jakarta, Minggu (28/9/2025), terlihat segar dan berani tanpa meninggalkan ciri khas detail garis, konstruksi potongan, dan minim ornamentasi.

    ‘”Sebenarnya karena research yang ’tidak selesai’ (berkesinambungan). Nanti beberapa tahun lagi kalau dapat ide atau gagasan baru, mungkin bisa keluar lagi (koleksi lainnya), tapi untuk sekarang saya rest dulu (dari tema ini),” ucap pendiri label Kraton ini, ditemui seusai acara.

    Pada pembuka, penonton disuguhi lanskap matahari saat siang di atas lautan luas pada layar di latar belakang. Kemudian, satu per satu model melintasi landas peraga. Salah satu model pria mengenakan setelan jas dan celana pendek selutut berwarna putih, menampilkan kesan santai nan elegan.

    Biasanya jas yang memiliki kerah shawl identik dengan kesan formal dan serius. Auguste melembutkan kesan itu dengan membuat kerah atas yang tegak, sedikit mengingatkan pada Napoleon collar, kerah pada jas yang dikenakan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte. Bagian depan kerah berkancing yang dibuat melebar memberi efek dada terlihat bidang.

    Setelah mata dimanja dengan warna putih, muncul busana bernuansa hitam. Setelan rok panjang hitam bermotif garis dan atasan blus hitam semi-dress berlengan panjang yang terlihat nyaman dikenakan model. Ini dipertegas dengan keberadaan dua saku pada kanan dan kiri rok, yang menjadi andalan untuk menyelipkan tangan saat teriknya matahari ataupun cuaca yang dingin.

    Pakaian keseharian di Bali tak melulu dikaitkan dengan yang berbahan minim, Auguste menyajikan pilihan lain yang panjang dan nyaman dipakai harian. Rancangan ini dilengkapi aksen kain ikat pinggang berwarna senada yang dililitkan pada pinggang sehingga menampilkan batas pinggang ke atas dan bawah tanpa membuat lekuk tubuh terlihat ketat.

    Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah ”westernized” sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional.

    Eksplorasi

    Fragmen selanjutnya yang ditampilkan pada latar belakang layar adalah video masyarakat Bali yang menjalankan tradisi atau upacara adat pada sore hari. Ada lima rancangan pakaian khas Bali yang elemen tradisionalnya ditunjukkan lewat bawahan kain songket Bali.

    Auguste tidak terlalu banyak memainkan warna terang pada koleksi atasan di segmen ini. Ia coba memadukan elemen itu dengan warna cerah pada corak tenunan songket Bali yang lebih geometrik.

    ”Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah westernized sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional. Jadi, bukan baju barat dan bukan juga baju tradisional panggung (setengah kostum), saya mencari jalan tengah,” ucapnya.

    Kali ini eksplorasinya dengan memadukan songket Bali menghasilkan pendekatan yang menyenangkan dan segar. Bisa dikatakan bahwa penggunaan kain tradisional tidak membuat fokus orang akan langsung tertuju pada kainnya, tetapi justru ke desain baju atasan yang anggun nan elegan.

    Salah satu contohnya terlihat pada rancangan blus atasan berbahan viscose yang dipadukan songket Bali berwarna dasar kemerahan. Blus itu menciptakan efek melayang dan jatuh mengikuti garis potongan. Siluet pakaiannya terlihat longgar sehingga menghadirkan ruang gerak yang cukup nyaman bagi yang mengenakan. Sementara kain songket yang dibuat tegak lurus membuat anggun secara tampilan keseluruhan.

    Tampilan wastra tak tampak mendominasi. Sebaliknya, perpaduan bahan tradisional dan rancangan yang modern justru saling menguatkan. Koleksi atasan pada segmen ini terlihat akan mudah dipadu padan dengan berbagai macam bawahan selain kain. Ruang keleluasaan ini membuat koleksi ini bisa berdaya pakai panjang.

    ”Ini kan koleksinya Bali, tapi Bali zaman sekarang itu masih ada semua pengaruh, ya. Saya mau kasih lihat bahwa masih ada tradisionalnya sedikit dan tradisional itu sebenarnya bisa berkembang,” tuturnya.

    Nyaman

    Kenyamanan yang diutamakan ini terlihat dari pemilihan jenis kain yang digunakan. Sebagian besar desain rancangan yang hadir dalam koleksi ini menggunakan linen premium, salah satunya desain jaket parka linen. Daya serap tinggi yang dimiliki kain linen membuat parka ini cocok dipakai dalam cuaca panas sekalipun, seperti di Bali.

    Menjelang pengujung pergelaran, tampil gaun panjang berbahan laminated lurex crepe yang cukup mencuri perhatian. Di bawah cahaya lampu, gaun ini memantulkan kilau lembut yang memberi aura glamor elegan yang pas. Keglamoran dalam garapan Auguste senantiasa terasa senyap, tak berteriak. parfum lokal

    Potongan gaunnya membentuk kesan anggun saat sang model melangkah. Tambahan aksen ikat pinggang membuat tubuh terlihat ramping dan kaki lebih jenjang.

    Di balik setiap rancangan minimalis Auguste selalu tersimpan pesan yang tak terucap, tapi bisa dirasakan. Dalam proses kreatifnya, dia selalu mempertanyakan sesuatu. Satu hal yang diyakininya, sebuah desain itu bisa berevolusi ketika perancangnya mempertanyakan sesuatu.

    ”Saya tahu ada batasan-batasannya, tetapi batasan itu tetap punya ujungnya sampai di mana. Nah, bagian itu yang selalu saya coba mainkan dan dorong terus,” ujar perancang yang sejak kecil menjadi kosmopolit itu.

    Bagi dia, tahap penelitian atau melakukan riset itu amat penting. Tidak hanya terlihat bagus secara estetika, tapi harus juga diikuti dengan penelitian. Sekali lagi, Auguste selalu memperhatikan detail kenyamanan, bukan demi estetika saja.

    Koleksi Bali milik Auguste menjadi contoh bahwa setiap ide yang datang harus diendapkan untuk kemudian diwujudkan. Setelah menyelami masa lalu dan merespons masa kini, api semangat bereksplorasinya dibiarkan terus menghangat.

    Parfum AXL