Jenama asal Jepang, Uniqlo, menghelat LifeWear Day 2025 di Museum of Modern Art (MoMA), New York City, Amerika Serikat pada Senin malam. Tema perhelatan itu, ”The Art and Science of LifeWear: The Next Generation of Innovation”. Ini tentang inovasi berkelanjutan pada produk-produk Uniqlo untuk merespons zaman yang terus berubah.
Malam itu, lobi MoMA disulap dengan instalasi The Next Generation of Inovation yang memamerkan teknologi terbaru yang digunakan pada produk-produk Uniqlo. Khususnya adalah pakaian dalam berupa campuran kasmir HEATTECH Extra Warm yang menggabungkan serat sintetis dan serat alami, serta pakaian luar PUFFTECH yang dilengkapi insulasi ringan baru yang dapat berfungsi sebagai alternatif pakaian luar berbahan bulu angsa. parfum lokal
Teknologi tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari koleksi Musim Gugur/Dingin 2025 Uniqlo yang dikembangkan sebagai respons terhadap masukan pelanggan untuk HEATTECH yang menggunakan bahan-bahan alami. Selain fungsi aslinya, yaitu mengubah uap air yang dihasilkan tubuh manusia menjadi panas, produk ini juga memadukan 9 persen kasmir pintal berkualitas tinggi yang menawarkan keterlacakan bahan baku.
Dibanding produk sebelumnya, inovasi ini membuat tingkat kehangatannya naik 1,5 kali. Sementara material kasmir yang digunakan, secara keseluruhan meningkatkan kemewahan pada tampilan produknya.
Koleksi Musim Gugur/Dingin 2025 Uniqlo tersebut, terentang dari pakaian dalam dan pakaian luar berupa jaket aneka model, serta bawahan berupa celana, kulot lebar dan rok. Tampilannya stylist dengan warna-warna dasar bernuansa elegan seperti putih, merah, marun, beige, hitam, coklat, krem, dan biru.
Di bawah besutan Direktur Kreatif Clare Waight Keller, tampilan pada koleksi Musim Gugur/Dingin 2025 Uniqlo tersebut secara keseluruhan terlihat modern dan elegan. Kehadiran Keller di Uniqlo sejak September 2024 tak dimungkiri telah membawa kesegaran baru pada produk-produk Uniqlo, meski juga tak dimungkiri membuat Uniqlo tak lagi ’semata’ bercita rasa Jepang, tetapi menjadi lebih global.
Keller bergabung sebagai desainer Uniqlo pada 2023. Tahun 2000, Keller bekerja untuk Gucci dan bergabung dengan Chloe empat tahun kemudian pada 2011, sebelum melompat menjadi Direktur Kreatif House of Givenchy pada 2017. Tahun 2018, desainer asal Inggris ini menarik lebih banyak perhatian karena mendapat kepercayaan untuk mendesain gaun pernikahan Meghan Markle pada 2018.
Nama besarnya di dunia mode membuat produk-produk Uniqlo besutannya menjadi buruan. Kiprahnya makin signifikan ketika Keller menjadi Direktur Kreatif. Menjadikan produk-produk Uniqlo tidak hanya utama dalam fungsi, tetapi juga stylist dari tampilan. Ditambah harga yang terjangkau, setidaknya bila dibandingkan dengan jenama-jenama kompetitor utamanya, perpaduan ini menjadi resep yang ampuh untuk memikat konsumen.
Perubahan dramatis
Dalam pidatonya di LifeWear Day 2025 di New York, Chairman, President dan CEO Fast Retailing yang memayungi Uniqlo, Tadashi Yanai, mengungkapkan, apa yang ditampilkan dalam LifeWear Day 2025 hanyalah langkah awal dari bentuk komitmen Uniqlo yang terus berinovasi pada produk-produk mereka. Demi mewujudkan komitmen tersebut, mereka berupaya untuk selalu merangkul perspektif konsumen serta sigap mengantisipasi perubahan gaya hidup saat ini.
Yanai mengungkapkan, gaya hidup masyarakat saat ini tengah mengalami perubahan dramatis. Zaman di mana pakaian diproduksi dalam jumlah berlebihan lalu dibuang dalam skala besar, menurut dia, telah berakhir. Sebaliknya, saat ini, orang-orang cenderung membeli hanya apa yang benar-benar mereka butuhkan.
”Mereka memilih pakaian berkualitas tinggi dan memakainya dengan hati-hati agar tahan lama, pakaian yang diperoleh dan diproduksi dengan cara yang paling ramah sumber daya, aman dan setara, serta pakaian yang dapat didaur ulang dan digunakan kembali sebanyak mungkin,” tutur Yanai. Jenis pemikiran dan perilaku inilah yang, menurut dia, kini menjadi arus utama zaman ini.
Sejalan dengan hal tersebut, Yanai menegaskan, Uniqlo bukanlah mode cepat sebagaimana yang dipersepsikan secara salah oleh orang-orang. Uniqlo, ujarnya, tidak membuat pakaian sekali pakai. ”Kami membuat pakaian yang melampaui zaman dan dapat dikenakan tahun demi tahun. Singkatnya, kami membuat pakaian yang tak lekang oleh waktu,” kata Yanai.
Saya percaya, kita semua berhak mengenakan pakaian yang didesain dan diproduksi secara cermat dengan bahan berkualitas tinggi yang saya sebut demokratisasi pakaian.
Ia menjelaskan, sejak meluncurkan Uniqlo, misi mereka dalah memperbaiki masyarakat melalui pakaian. Inti dari misi tersebut adalah prinsip made for all (dibuat untuk semua) yang melampaui batas kebangsaan, usia, pekerjaan, dan gender.
”Saya percaya, kita semua berhak mengenakan pakaian yang didesain dan diproduksi secara cermat dengan bahan berkualitas tinggi yang saya sebut demokratisasi pakaian. Untuk mewujudkannya, kami menawarkan pakaian berkualitas tinggi dengan harga terjangkau untuk konsumen di seluruh dunia. Kami ingin mengubah kehidupan sehari-hari orang-orang dan akhirnya mengubah dunia,” kata Yanai.
Meski ditawarkan dengan harga terjangkau, LifeWear tidak berkompromi soal kualitas. LifeWear memiliki keindahan yang praktis, sederhana tetapi elegan dengan perhatian penuh pada detail terkecil. Sejak Uniqlo didirikan, mereka telah berupaya untuk menghadirkan jenis pakaian yang benar-benar baru, melampaui kerangka konvensional mode atau pakaian jadi.
”Sesungguhnya, tujuan kami adalah menciptakan industri baru yang terfokus tidak hanya pada pakaian sebagai sebuah produk, tetapi juga pada proses pembuatannya, cara penjualannya bahkan hingga daur ulang. Ini yang membedakan kami dari yang lain, yang menentukan tujuan dan makna utama kami,” papar Yanai.
Dengan memanfaatkan teknologi informasi terkini, Uniqlo terus berupaya menciptakan pakaian yang benar-benar memenuhi kebutuhan masyarakat saat ini. Semua terwujud berkat kemitraan Uniqlo dengan Toray Industries yang terjalin sejak 2006 dan telah menghasilkan banyak produk baru yang melampaui batas pakaian konvensional.
Kemitraan mereka, misalnya, telah melahirkan pakaian HEATTECH yang tipis. tetapi hangat, hingga produk AIRsm yang sangat nyaman sehingga orang lupa bila sedang mengenakannya. Ada pula parka dengan perlindungan UV yang ringan serta bebas PFAS (sekelompok bahan kimia yang sulit terurai dan bisa menumpuk di lingkungan dan tubuh manusia). Inovasi paling baru, ditampilkan dalam LifeWear Day 2025 di MoMA. parfum lokal indonesia
Meski Uniqlo dan Toray beroperasi di lini bisnis yang berbeda, keduanya memiliki basis pengetahuan yang sama, dan berkomitmen untuk menciptakan pakaian yang melampaui konvensi. Mereka bekerja sama di seluruh proses mulai pengembangan material, manufaktur dan distribusi, hingga pemasaran, peningkatan, dan penyempurnaan produk.
”Melampaui konvensi masa lalu, menciptakan pakaian yang belum pernah ada sebelumnya. Dengan begitu, memungkinkan orang-orang untuk lebih menikmati hidup, membuat hidup lebih nyaman dan praktis. Itulah tujuan kami sebagai perusahaan. Kami akan terus berupaya mencapai tujuan tersebut,” kata Yanai.
Presiden Toray Industries Mitsuo Ohya mengungkapkan, Toray melakukan lebih dari sekadar memasok material inovatif. Mereka bekerja dengan Uniqlo dalam pengembangan, produksi, logistik, bahkan pemasaran.
”Kami selalu percaya bahwa material dapat mengubah kehidupan. Kami tetap berkomitmen untuk mendorong batas-batas teknologi dan membuka potensi material untuk memberikan nilai baru. Pada saat yang sama, dengan menyadari tantangan perubahan iklim dan populasi yang menua serta mengidentifikasi apa yang benar-benar dicari konsumen, kami akan mengembangkan LifeWear dengan cara yang mengejutkan dan menyenangkan. Kami akan terus bekerja sama dengan Uniqlo untuk memanfaatkan teknologi dalam menciptakan LifeWear masa depan,” kata Ohya.
Sejak didirikan pada 1926 untuk memproduksi rayon, Toray telah berkembang menjadi produsen berbagai jenis material yang mendukung kehidupan sehari-hari. Memulai dengan serat, mereka kemudian merambah ke bidang-bidang seperti pengolahan air, farmasi, dan perawatan kesehatan.
Ohya menyebutkan, banyak hal telah dilakukan Toray untuk turut mengatasi tantangan global. Misalnya dengan mengembangkan dan memasok serat karbon yang 10 kali lebih kuat daripada baja, tetapi beratnya hanya seperempatnya. Pada sayap dan badan pesawat, serat karbon ini membantu mengurangi emisi karbon dioksida, membuat pesawat lebih ringan dan meningkatkan efisiensi bahan bakar.
Toray juga memanfaatkan kekuatan material untuk membantu mengatasi kekurangan air global. Saat ini, 2,2 miliar orang atau seperempat populasi dunia tidak dapat mengakses air bersih. ”Teknologi membran pengolahan air kami membantu memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya. Toray juga memungkinkan daur ulang air limbah untuk keperluan industri.
Komitmen pada seni
Komitmen Uniqlo pada inovasi sains tak diragukan, demikian pula komitmen Uniqlo pada seni sebagaimana filosofi LifeWear yang mereka usung. Dalam kaitan kerja sama antara Uniqlo dan MoMA, di LifeWear Day 2025 dipamerkan pula lini kaus grafis UT yang memadukan seni dan budaya dalam pakaian sehari-hari.
Di antaranya adalah kaus bergambar karya pelukis Vincent van Gogh ”Starry Night” dan karya pelukis Claude Monet ”Agapanthus” dan ”Water Lily”. Filosofi LifeWear berfokus pada pakaian sehari-hari yang sederhana, tetapi berkualitas tinggi dan fungsional dengan sentuhan keindahan yang praktis untuk membuat hidup setiap orang menjadi lebih baik.
Dalam kesempatan yang sama, Uniqlo juga memperkenalkan seniman KAWS yang bernama asli Brian Donnelly sebagai Artist in Residence Uniqlo yang pertama. KAWS telah berkolaborasi dengan Uniqlo sejak 2016. Selama melakoni perannya sebagai Artist in Residence tersebut, KAWS akan membantu Uniqlo dalam meningkatkan apresiasi serta partisipasi seni dan kreativitas secara global.
Kami selalu percaya bahwa material dapat mengubah kehidupan. Kami tetap berkomitmen untuk mendorong batas-batas teknologi dan membuka potensi material untuk memberikan nilai baru.
Penunjukkan Artist in Residence ini dapat dibaca sebagai bentuk keseriusan dan pelibatan Uniqlo pada dunia seni. Dalam wawancara khusus dengan sejumlah media di New York pada Selasa (16/9/2025), Yanai menegaskan bahwa sentuhan seni sudah sepatutnya menjadi bagian penting dalam penciptaan produk-produk busana atau pakaian. Itulah mengapa seni menjadi salah satu komponen penting bagi Uniqlo, yang termanifestasi dalam produk-produk mereka.
Di sisi lain, penunjukan aktor Cate Blanchett yang, antara lain, dikenal melalui perannya di trilogi The Lord of the Rings dan Ocean’s 8, sebagai Global Brand Ambassador Uniqlo 2025 juga menjadi bentuk keseriusan Uniqlo dalam menampilkan citranya di mata publik. Blanchett yang telah berkarier di dunia film Hollywood lebih dari 30 tahun memiliki reputasi yang baik dan terhormat.
Kehadirannya sebagai bagian dari ”keluarga Uniqlo” melengkapi posisi mantan petenis dunia Roger Federer yang telah 7 tahun mengemban tugas sebagai Global Brand Ambassador Uniqlo. Keduanya sama-sama memiliki prestasi gemilang di dunia yang mereka geluti serta citra yang cemerlang.
Tampaknya seiring perubahan zaman, di mana perubahan iklim dan populasi yang menua menjadi tantangan, Uniqlo berupaya untuk terus meneguhkan peran dan citra mereka. Tak hanya semata cemerlang dari sisi posisi dan citra yang mendatangkan pundi-pundi materi, tetapi juga berkontribusi pada perubahan dunia melalui inovasi teknologi tanpa henti. Namun, perlu tetap diingat bahwa kendali konsumsi, mutlak ada di tangan konsumen.