Bali yang Disimpan, Diperam, dan Dilepaskan Auguste

Auguste Soesastro seperti melakukan ”fermentasi” selama bertahun-tahun untuk merespons ”rasa” dari Bali versi terkini. Penggunaan bahan klasik yang dipadukan dengan rancangan bersiluet modern seolah mencerminkan dualitas budaya yang berdampingan di Bali. Begitu dinamis dan universal seiring waktu.

Penafsiran yang matang tentang Bali itu tak lahir dalam sekejap. Sebelumnya, Auguste pernah memperkenalkan koleksi yang terinspirasi dari tarian Bali di New York, Amerika Serikat, pada tahun 2010. Sejak saat itu, dia terus mengamati, meriset, dan mengeksplorasi banyak hal. parfum kualitas terbaik

Benar saja, semakin lama diperam, koleksi 27 tampilan busana karya Auguste bertajuk ”Archipelago Cruise” yang tampil dalam Plaza Indonesia Fashion Week, Jakarta, Minggu (28/9/2025), terlihat segar dan berani tanpa meninggalkan ciri khas detail garis, konstruksi potongan, dan minim ornamentasi.

‘”Sebenarnya karena research yang ’tidak selesai’ (berkesinambungan). Nanti beberapa tahun lagi kalau dapat ide atau gagasan baru, mungkin bisa keluar lagi (koleksi lainnya), tapi untuk sekarang saya rest dulu (dari tema ini),” ucap pendiri label Kraton ini, ditemui seusai acara.

Pada pembuka, penonton disuguhi lanskap matahari saat siang di atas lautan luas pada layar di latar belakang. Kemudian, satu per satu model melintasi landas peraga. Salah satu model pria mengenakan setelan jas dan celana pendek selutut berwarna putih, menampilkan kesan santai nan elegan.

Biasanya jas yang memiliki kerah shawl identik dengan kesan formal dan serius. Auguste melembutkan kesan itu dengan membuat kerah atas yang tegak, sedikit mengingatkan pada Napoleon collar, kerah pada jas yang dikenakan kaisar Perancis, Napoleon Bonaparte. Bagian depan kerah berkancing yang dibuat melebar memberi efek dada terlihat bidang.

Setelah mata dimanja dengan warna putih, muncul busana bernuansa hitam. Setelan rok panjang hitam bermotif garis dan atasan blus hitam semi-dress berlengan panjang yang terlihat nyaman dikenakan model. Ini dipertegas dengan keberadaan dua saku pada kanan dan kiri rok, yang menjadi andalan untuk menyelipkan tangan saat teriknya matahari ataupun cuaca yang dingin.

Pakaian keseharian di Bali tak melulu dikaitkan dengan yang berbahan minim, Auguste menyajikan pilihan lain yang panjang dan nyaman dipakai harian. Rancangan ini dilengkapi aksen kain ikat pinggang berwarna senada yang dililitkan pada pinggang sehingga menampilkan batas pinggang ke atas dan bawah tanpa membuat lekuk tubuh terlihat ketat.

Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah ”westernized” sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional.

Eksplorasi

Fragmen selanjutnya yang ditampilkan pada latar belakang layar adalah video masyarakat Bali yang menjalankan tradisi atau upacara adat pada sore hari. Ada lima rancangan pakaian khas Bali yang elemen tradisionalnya ditunjukkan lewat bawahan kain songket Bali.

Auguste tidak terlalu banyak memainkan warna terang pada koleksi atasan di segmen ini. Ia coba memadukan elemen itu dengan warna cerah pada corak tenunan songket Bali yang lebih geometrik.

”Menurut saya, Bali zaman sekarang sebagian besar sudah westernized sekali. Saya ingin menunjukkan baju-baju yang bisa dipakai di Bali masih punya jejak tradisional Indonesia, tapi tampilannya tetap internasional. Jadi, bukan baju barat dan bukan juga baju tradisional panggung (setengah kostum), saya mencari jalan tengah,” ucapnya.

Kali ini eksplorasinya dengan memadukan songket Bali menghasilkan pendekatan yang menyenangkan dan segar. Bisa dikatakan bahwa penggunaan kain tradisional tidak membuat fokus orang akan langsung tertuju pada kainnya, tetapi justru ke desain baju atasan yang anggun nan elegan.

Salah satu contohnya terlihat pada rancangan blus atasan berbahan viscose yang dipadukan songket Bali berwarna dasar kemerahan. Blus itu menciptakan efek melayang dan jatuh mengikuti garis potongan. Siluet pakaiannya terlihat longgar sehingga menghadirkan ruang gerak yang cukup nyaman bagi yang mengenakan. Sementara kain songket yang dibuat tegak lurus membuat anggun secara tampilan keseluruhan.

Tampilan wastra tak tampak mendominasi. Sebaliknya, perpaduan bahan tradisional dan rancangan yang modern justru saling menguatkan. Koleksi atasan pada segmen ini terlihat akan mudah dipadu padan dengan berbagai macam bawahan selain kain. Ruang keleluasaan ini membuat koleksi ini bisa berdaya pakai panjang.

”Ini kan koleksinya Bali, tapi Bali zaman sekarang itu masih ada semua pengaruh, ya. Saya mau kasih lihat bahwa masih ada tradisionalnya sedikit dan tradisional itu sebenarnya bisa berkembang,” tuturnya.

Nyaman

Kenyamanan yang diutamakan ini terlihat dari pemilihan jenis kain yang digunakan. Sebagian besar desain rancangan yang hadir dalam koleksi ini menggunakan linen premium, salah satunya desain jaket parka linen. Daya serap tinggi yang dimiliki kain linen membuat parka ini cocok dipakai dalam cuaca panas sekalipun, seperti di Bali.

Menjelang pengujung pergelaran, tampil gaun panjang berbahan laminated lurex crepe yang cukup mencuri perhatian. Di bawah cahaya lampu, gaun ini memantulkan kilau lembut yang memberi aura glamor elegan yang pas. Keglamoran dalam garapan Auguste senantiasa terasa senyap, tak berteriak. parfum lokal

Potongan gaunnya membentuk kesan anggun saat sang model melangkah. Tambahan aksen ikat pinggang membuat tubuh terlihat ramping dan kaki lebih jenjang.

Di balik setiap rancangan minimalis Auguste selalu tersimpan pesan yang tak terucap, tapi bisa dirasakan. Dalam proses kreatifnya, dia selalu mempertanyakan sesuatu. Satu hal yang diyakininya, sebuah desain itu bisa berevolusi ketika perancangnya mempertanyakan sesuatu.

”Saya tahu ada batasan-batasannya, tetapi batasan itu tetap punya ujungnya sampai di mana. Nah, bagian itu yang selalu saya coba mainkan dan dorong terus,” ujar perancang yang sejak kecil menjadi kosmopolit itu.

Bagi dia, tahap penelitian atau melakukan riset itu amat penting. Tidak hanya terlihat bagus secara estetika, tapi harus juga diikuti dengan penelitian. Sekali lagi, Auguste selalu memperhatikan detail kenyamanan, bukan demi estetika saja.

Koleksi Bali milik Auguste menjadi contoh bahwa setiap ide yang datang harus diendapkan untuk kemudian diwujudkan. Setelah menyelami masa lalu dan merespons masa kini, api semangat bereksplorasinya dibiarkan terus menghangat.

Parfum AXL