Maskulin dan feminin dalam fashion bukanlah unsur yang harus dibelenggu dalam kotak-kotak jender. Keduanya menjadi energi yang boleh dan sah saja untuk dieksplorasi lintas-jender. Pesan itu yang bisa ditarik dari peragaan busana koleksi Tex Saverio dan Agus Lim dalam perhelatan Senayan City Fashion Nation ke-19.
Apa yang terbayang di kepala kita tentang setelan jas pria? Lazimnya alam pikir kita menggambarkan sosok laki-laki gagah dan maskulin berbalut jas yang rapih dan berkelas. Kata gentleman menjadi diksi yang mudah terucap melalui bayangan itu. Padahal, ada kata gentle dalam gentleman yang berarti ’lembut’, kata sifat yang lebih dekat dengan kualitas feminin daripada maskulin.
Kualitas ”lembut” yang lebih dekat dengan energi feminin itu yang mewarnai koleksi setelan jas Agus Lim. Bertajuk ”Gentle Disruption”, koleksi jas Agus Lim menampilkan sisi lembut dari setelan jas yang biasanya hanya dieksplorasi sisi maskulinitasnya. Agus yang dikenal sebagai perancang setelan jas untuk wedding ini memamerkan pula keahliannya dalam keterampilan penjahitan (tailoring) yang presisi.
”Dalam bayangan saya, gentleman itu enggak harus yang kaku. Oleh karena itu, aku namakan Gentle Disruption, sedikit lari-larilah. Agak selengean, tapi tetap bisa masuk untuk formal,” kata Agus.
Agus memamerkan 18 tampilan setelan jas yang secara keseluruhan sebenarnya memang bisa dikenakan lintas jender. Laki-laki bisa mengenakannya tanpa terkesan ”tercederai” maskulinitasnya. Potongan yang bersih dan rapih menjadi unsur utama yang memperkuat kesan elegan. parfum lokal
Agus juga memainkan palet warna bernuansa pastel yang lebih lazim muncul pada koleksi untuk busana perempuan. Tentu saja ini di luar pakem warna-warna setelan jas yang umumnya gelap, abu-abu, atau khaki. Busana yang muncul pertama, misalnya, menampilkan warna mustard yang lembut dengan dalaman kemeja berkerah tinggi warna keabu-abuan.
Selain palet warna tak biasa, Agus juga memainkan siluet jas, seperti potongan pendek sebatas pinggang pada setelan berwarna hijau pastel dan cokelat. Ada pula setelan jas berwarna beige lembut berbelahan samping dengan aksen tali untuk disimpulkan.
”Saya eksplorasi sedikit di tailoring yang presisi, saya buat agak bebas tanpa menghilangkan (tampilan) kerapihannya,” kata Agus.
Berpuluh tahun mendesain setelan jas, terutama untuk pernikahan, Agus mengutamakan pada detail kerapihan dalam penjahitan, kualitas bahan, dan warna. Untuk koleksi Great Disruption ia menggunakan bahan katun, wol, dan wol campuran. Menurutnya, dengan kualitas bahan kain yang bagus, ia tak perlu lagi menambah-nambahkan ornamen ramai pada busana.
Dalam salah satu setelan jas berwarna kuning, Agus terlihat lebih ”liar” bermain dengan membuat imaji garis-garis pada bagian perut, lengan, dan celana. Garis-garis kuning itu rupanya bukanlah motif pada material kain melainkan jahitan benang kuning. Potongan jas juga dibuat pendek, sedikit di bawah pinggang.
Seluruh busananya dilengkapi dengan sematan aksesori bros keemasan karya Rinaldy Yunardi. Aksesori berbentuk bunga itu memberi sentuhan feminin, yang sama sekali tidak menggoyahkan kemaskulinan dari setelan jas. Koleksi ”Gentle Disruption” ini mencerminkan racikan maskulinitas dan feminitas yang harmonis bisa sedap dipandang, jauh dari kesan ganjil.
Eksplorasi teknik
Racikan energi feminin dan maskulin juga dieksplorasi oleh desainer Tex Saverio dengan pendekatan berbeda. Di pergelaran yang sama, Tex menampilkan koleksi bertajuk ”Domina” yang dalam bahasa latin berarti ’perempuan yang memimpin’. Tex mengatakan, koleksinya tersebut terinspirasi dari kekuatan perempuan, khususnya ibunya.
”Menurutku, perempuan itu makhluk terkuat di Bumi ini. Ada dualitas dari kompleksitas perempuan, yakni sisi kuat sekaligus sisi rapuh. She can be a phoenix, she can be a dragon,” kata Tex.
Baik burung phoenix maupun naga merupakan makhluk mitologi yang sarat makna. Burung phoenix melambangkan kebangkitan, harapan, keabadian, pembaruan, transformasi, dan siklus kehidupan. Sementara naga dalam mitologi Tiongkok melambangkan kekuatan, perlindungan, dan keberuntungan. Jika phoenix merepresentasikan energi yin (feminin), maka naga merepresentasikan energi yang (maskulin).
Untuk mewujudkan koleksi ”Domina” ini, Tex menggabungkan cara kuno tradisional sekaligus teknologi modern. Cara tradisional ia terapkan pada proses menyulam material dekoratif pada bahan tile dengan teknik nakshi kantha. ”Nakshi, teknik yang sudah jarang banget dipakai,” kata Tex.
Nakshi kantha merupakan seni sulam tradisional dari wilayah Bengal, yaitu Bangladesh dan Benggala Barat di India. Nakshi yang telah dilakukan selama beberapa abad di kawasan tersebut terkenal dengan pola artistiknya yang rumit. Dengan teknik tersebut, Tex mengaplikasikan berbagai material dekoratif, seperti beads satu per satu pada bahan kain.
Kemudian, dengan pendekatan teknologi, Tex menggunakan teknik pencetakan 3D (tiga dimensi) pada material resin dan PLA atau polylactic acid. Material ini merupakan polyester biodegradable yang terbuat dari sumber daya biomassa terbarukan, seperti pati jagung, singkong, atau tebu. parfum lokal indonesia
PLA cukup populer sebagai filamen dalam pencetakan 3D karena mudah dicetak karena titik lelehnya rendah, aman bersentuhan dengan tubuh manusia, biayanya terjangkau, dan ramah lingkungan. Meski demikian, PLA bersifat higroskopis (menyerap kelembapan) dan lebih rapuh ketimbang termoplastik lainnya sehingga perlu disimpan dengan baik.
”Jadi, dalam koleksi ini (teknik utama) bukan menjahit (busana). Mungkin nanti ke depannya kita di era untuk bikin baju itu kita print, mencetak. Ini tanpa mold, kita bikin 3D file dengan software khusus,” kata Tex.
Citra phoenix dan naga dalam tiga dimensi tadi diwujudkan dengan teknologi cetak 3D pada filamen PLA ini. Secara visual, pada filamen tersebut seolah terukir bentuk naga dan burung phoenix. Filamen itu kemudian disambungkan pada bahan tile yang telah disulam dengan teknik nakshi. Setiap filamen PLA telah disiapkan lubang-lubang untuk penyambungan. Proses ini semua tentunya membutuhkan keterampilan tangan yang sangat tinggi dan penuh kehati-hatian. Sebab, kedua material berbeda kontras karakternya, filamen PLA cenderung kaku dibandingkan bahan tile yang lebih rapuh.
Tex mengatakan, dirinya akan terus mengembangkan eksplorasi fashion dengan memanfaatkan teknologi modern. Mesin cetak 3D, misalnya, Tex telah memilikinya sendiri sehingga tidak perlu lagi bekerja sama dengan vendor tertentu seperti ketika ia mengeluarkan koleksi Exoskeleton (2013). Tex kini menggunakan dua macam mesin pencetakan 3D, yakni untuk bahan resin dan bahan PLA. Eksplorasi teknologi dalam koleksi Domina ini juga memberi kesan modern dan futuristik, tetapi tidak dingin.
Tex meyakini, fashion berbasis teknologi akan terus berkembang dan membuka berbagai kemungkinan dalam berkreasi. Eksplorasi teknologi sudah menjadi semacam ruh dari karya-karyanya. ”Dan perkembangannya nanti bahan-bahan baru (selain PLA) yang juga bisa diterapkan dengan ini (cetak 3D), seolah bajunya ada ukirannya,” imbuh Tex.
Dalam koleksi Domina, busana berbahan PLA dengan cetakan tiga dimensi diwujudkan menjadi siluet body suit hingga korset yang memeluk tubuh dengan kokoh. Alhasil, tampilan keseluruhan memberi kesan keanggunan yang gagah. Kegagahan yang biasanya menyimpan energi maskulin diramu dengan kelembutan yang feminin.
Dari koleksi Tex Saverio ataupun Agus Lim, feminitas yang diidentikkan rapuh bisa sekaligus menjadi kekuatan yang mampu mendobrak apa pun yang seolah tak mungkin. Energi feminin dan maskulin sengaja dibuat saling berinteraksi dan bersenyawa sehingga mewujudkan keindahan yang lebih dialogis.
